Renungan

Asas Pengajaran Tentang Alkitab

Ev. Yosias Ullo, S.Pak., M.Pd. 96 dilihat 3 suka
Asas Pengajaran Tentang Alkitab

Kata “Bible” dalam bahasa Inggris berasal dari kata Yunani Biblios, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “Alkitab”. Selanjutnya, Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa daerah masing-masing suku dan bangsa di dunia. Karena itu, orang Hatam-Moilei menerjemahkan Alkitab menjadi Srat Repo/Allah Nihyet Mem Tunggwatu Nya. Alkitab bukanlah sebuah kitab biasa. Alkitab adalah Kitab Allah.

Ada dua bagian dalam Alkitab, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama berisi riwayat dan panggilan Allah kepada bangsa Yahudi, serta nubuat tentang Mesias yang dijanjikan, yang akan datang sebagai Juruselamat dunia. Sementara itu, Perjanjian Baru berisi berita tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus dan bagaimana manusia dapat memperoleh keselamatan itu. Itulah sebabnya bagian ini disebut Perjanjian Baru. Dengan demikian, Alkitab sering disebut sebagai Firman Allah, yaitu perkataan Allah kepada manusia.

Lalu, bagaimana kita tahu bahwa apa yang ditulis dalam Alkitab adalah perkataan Allah? Sebab Alkitab adalah penyataan dari Allah. Penyataan itu diberikan oleh Allah kepada manusia dengan cara yang luar biasa. Home mengatakan, “Penyataan yaitu Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, atau menyatakan kehendak-Nya kepada manusia yang sebenarnya tidak dapat mengetahui dengan akal budi atau pikirannya sendiri.”

Dalam Alkitab, Tuhan Allah memberikan penyataan yang genap dan sempurna kepada manusia. Ia membuktikan kebenaran penyataan itu melalui mujizat (Yohanes 3:2) dan nubuat yang digenapi (Yesaya 46:9-10; Yohanes 14:29). Penyataan itu adalah penyataan tentang diri-Nya sendiri yang digenapi dalam Yesus. Yesus adalah penggenapan diri dari semua penyataan Allah Bapa.

Agama Kristen timbul sebab Allah menyatakan diri kepada manusia di dalam diri Yesus, tetapi pengajaran tentang Kekristenan terdapat di dalam hati dan pikiran orang yang percaya” (McPherson).

Penyataan yang demikian itu diperlukan sebab suara hati manusia tidak cukup kuat untuk membawa manusia kepada Allah. Selain itu, penyataan yang direncanakan itu penting supaya dapat dijadikan suatu ukuran yang benar, tepat, dan pasti. Sejak dahulu, Rasul Paulus telah memberitahukan bahwa akan datang guru-guru sesat di dalam jemaat-jemaat yang tidak mempedulikan anggota-anggota jemaatnya. Oleh sebab itu, penyataan Allah yang direncanakan sangat penting bagi kehidupan umat-Nya.

Namun, bagaimana penyataan itu disampaikan? Penyataan itu diilhamkan Allah kepada manusia dan kemudian ditulis dalam Alkitab.

Alkitab Diilhamkan oleh Allah

Perkataan “diilhamkan oleh Allah” dalam bahasa Yunani berarti “dinafaskan oleh Allah” (2 Timotius 3:15-16; 2 Petrus 1:21).

Diilhamkan artinya, si penulis Alkitab itu digerakkan dan dipimpin oleh Allah sehingga ia dapat menuliskan kebenaran-kebenaran yang mungkin sudah diketahuinya lebih dahulu, tetapi mungkin juga belum diketahuinya” (Pardigton).

“Bila dikatakan Alkitab diilhamkan oleh Allah, itu berarti Tuhan Allah menggerakkan serta memimpin pikiran orang-orang yang menulis Alkitab itu. Dengan demikian, Alkitab itu adalah suatu undang-undang yang tidak mungkin salah dan wajib dipercayai serta ditaati” (Strong).

Diilhamkan artinya Roh Kudus bekerja di dalam akal budi orang-orang yang menulis Alkitab itu, sehingga pikiran mereka dibukakan dan mereka dapat menuliskan kebenaran-kebenaran Allah dengan tepat” (Hannah).

Kesimpulan

Kedua ayat ini menegaskan bahwa Alkitab berasal dari Allah dan menjadi pedoman yang dapat dipercaya bagi kehidupan manusia.

2 Timotius 3:16 menekankan bahwa “segala tulisan yang diilhamkan Allah” berguna untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran.

Sementara itu, 2 Petrus 1:21 menjelaskan bahwa nubuat dalam Kitab Suci bukan berasal dari kehendak manusia semata, tetapi orang-orang berbicara dari Allah karena mereka didorong oleh Roh Kudus.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa Kitab Suci memiliki sumber ilahi: Allah menyampaikan kehendak-Nya melalui manusia yang dipimpin oleh Roh Kudus. Karena itu, Firman Tuhan bukan hanya untuk diketahui, tetapi harus menjadi dasar untuk membentuk iman, karakter, dan kehidupan orang percaya. Amin.(*)

Bagikan Artikel Ini